Apa pendapat kalian mengenai blog ini?

My Photo

My Photo
My Album
Powered By Blogger

Jumat, 02 April 2010

Liberty Manik

Liberty Manik

Riwayat Hidup

Liberty Manik (Sidikalang, Sumatra Utara 1924 - 16 September 1993) adalah seorang komponis dan pengajar musik di Institut Seni Indonesia (Yogyakarta). Ia juga dikenal sebagai filolog (ahli bahasa) Batak kuno.

DR.L.Manik adalah seorang tokoh idealis dan sangat mencintai bangsanya (Indonesia) dan Sukunya (Batak), untuk mengetahui sekedarnya tentang DR. MAnik kita baca cuplikan rekannya yang bernama Alfred sbb:
Ketika Alfred ke Jakarta, Manik kemudian studi ke Jerman. Manik berhasil memperoleh gelar doktor filsafat dengan magna cum laude di Universitas Frein. Disertasinya berjudul Das Arabische Tonsysten Im Mittelalter adalah pengkajian kitab-kitab musik para filsuf muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ihwan al-Safa. "Luar biasa, sayang tak banyak orang tahu soal itu," kata Alfred.
Liberty Manik, pria berdarah Batak yang lahir di Sidikalang, Sumatra Utara, meninggal pada 16 September 1993 pada usia 69 tahun. Sepanjang hidupnya, Ia tak hanya menjadi pencipta lagu, ia juga pengajar musik di Institut Seni Indonesia (Yogyakarta) yang dikenal sebagai filolog (ahli bahasa) Batak kuno. Ia melakukan kajian yang mendalam mengenai Gondang, musik khas
Batak.

Pendidikan

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar melanjutkan ke sekolah keguruan HIK di Muntilan (Jawa Tengah). Menyelesaikan studi doktor musik di Universitas Berlin (Jerman) dengan predikat cum laude. Disertasinya mengenai musik Arab pada zaman Abad Pertengahan.

Karya

- Lagu Satu Nusa Satu Bangsa

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

- Desaku

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku

Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Makam Liberty Manik

Sumber Foto: Koleksi www.wisatamelayu.com (Lukman Solihin dan Des Christy)

Jumat, 26 Maret 2010

Berlian di Hati Fiorenza (Oleh : Valerina)

Berlian di Hati Fiorenza

(Oleh : Valerina)

Babak I

  1. (Fiorenza menebarkan pandangannya sekali lagi. Menghela napas sekali lagi. Hatinya berdebar-debar karena Filbert pas di hari Valentine akan berjanji bertemu di coffee shop padanya. Mereka akan bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama berkenalan lewat e-mail. Sebuah ide telah dijalankan Florenza dengan baik. Ia meminta bantuan salah seorang tetangganya yang kira-kira sudah berumur empat puluh tahun untuk menyamar sebagai dirinya. Ia memberikan tanda kepada Filbert sebuah bros berlambang dolphin. Selain itu berpakaian serba pink. Sedangkan dalam e-mailnya Filbert mengatakan akan memakai kemeja kotak pink dan celana hitam, juga bros dolphin. Jadi mereka akan saling mengenal lewat bros dan pakaian. Florenza duduk agak jauh dari Bu Belva, tetangganya.)
  2. (Akhirnya saat yang ditunggu juga datang, Filbert datang dan dengan segeranya menghampiri meja Bu Belva)
  3. Filbert : Selamat sore, ini nona Fiorenza? (tanyanya sopan seraya mengulurkan tangan)
  4. Bu Belva : (Tersenyum ramah, membalas uluran tangan Filbert) Sore juga, ya… saya, Fiorenza yang Anda kenal lewat e-mail. Anda Filbert, bukan?(balik bertanya sambil melirik bros dolphin yang dikenakan Filbert)
  5. Filbert : Ya, sudah lama menunggu saya?
  6. Bu Belva : Lumayan juga. Ngak apa-apa. Silakan duduk
  7. (Filbert mengambil tempat duduk di sebelah Bu Belva. Ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan wajah tersenyum. Apa tidak salah aku merayakan Valentine dengan wanita seperti ini? Tapi aku udah janji, biarlah!!) Mbak, tolong pesankan kopinya satu lagi (sahutnya ke pelayanan coffee shop tersebut)
  8. Bu Belva : Kaget dengan penampilan saya??
  9. Filbert : Ngak kok, kamu cantik (pujinya)
  10. Bu Belva : Yang benar saja, Fil. Masak? Tubuh saya yang begini dibilang cantik?? Saya akan sadar diri kok. Tak marah bila kamu bilang tidak cantik.
  11. Filbert : Bener. Cantik ‘kan nggak hanya melulu penampilan lahiriahnya, tapi yang di dalam …..itu loh hatinya
  12. Bu Belva : Lho, masak kamu sudah tahu hati saya?
  13. Filbert : Kamu banyak memberikan dukungan saat saya berada pada titik-titik bawah. Kamu ada saat saya butuhkan (katanya sambil tersenyum)
  14. Bu Belva : Oh… begitulah thanks lho.
  15. Filbert : Oia, kita hanya bersahabat kan?
  16. Bu Belva : Tapi di e-mail kamu bilang mencintai saya?
  17. Filbert : Sekarang diralat. Maaf, kamu jangan marah. Saya tidak bisa memacari kamu?
  18. Bu Belva : Karena saya lebih tua darimu??
  19. Filbert : Ya… (mengangguk) anda sudah seperti Ibu saya sendiri.
  20. Bu Belva : Oh……….
  21. (Fiorenza yang melihat adegan itu dari belakang, tak jauh dari mereka, juga cekikikan menahan tawa….)
  22. (Filbert yang tahu dirinya dikerjai, segera pulang sambil wajahnya mengerut. Menandakan tidak senang dengan kondisi ini)
  23. Fiorenza : Thanks ya….atas bantuan Ibu….(sahutnya sambil menyelami tangan BU Belva)
  24. Bu Belva : Ngak apa-apa. Filbert itu orangnya baik.
  25. Fiorenza : Belum tentu.
  26. Bu Belva : Ibu sudah berpengalaman dengan anak muda. Dari cara ngomongnya yang santin, Ibu jamin dia anak baik.
  27. Fiorenza : Makanya saya minta bantuan Ibu untuk menilai sebelum saya menilai sendiri. Saya takut kenal dengan pemuda brengsek. Sekarang ‘kan zaman edan. Banyak yang gak bener dibandingkan yang bener. Sudah banget cari yang baik.
  28. Bu Belva : Percaya deh sama Ibu. Ibu ‘kan nggak bakalan membahayakan kamu.
  29. Fiorenza : Jangan bilang sama mama ya???
  30. Bu Belva : Rebes……

Babak II

  1. (Filbert membaringkan diri di kasurnya yang empuk. Datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk melihat wanita paruh baya? Gempal lagi? Wah, sungguh diluar pemikiran saya) katanya dalam hati sambil menertawai dirinya di depan cermin. Sia-sia saja aku minta cuti seminggu…..
  2. (Filbert merasa resah, dia membolak-balikkan badannya. Ia tidak mengenal siapa-siapa di kota Medan, kecuali Fiorenza…)
  3. (Kring…..Kring…..Kring……….)
  4. Fiorenza : Halo…
  5. Filbert : Halo juga… ini siapa ya??? (balasnya dengan kening berkerinyit)
  6. Fiorenza : Ini Fiorenza….bisa bicara dengan Filbert
  7. Filbert : Ya saya sendiri….Ada apa???
  8. Fiorenza : Kamu harus janji satu hal dulu
  9. Filbert : Oke….
  10. Fiorenza : Ngak boleh marah..
  11. Filbert : Memangnya saya ini pemarah? Tapi kok suaranya lain? “suaramu lain”
  12. Fiorenza : Saya Fiorenza yang asli. Semalam yang kamu jumpai adalah tetangga saya.
  13. Filbert : Hah??? Apa telingaku tidak salah dengar?
  14. Fiorenza : Maaf, saya hanya ingin mengujimu. Saya merasa bersalah. Maafkan saya….
  15. Filbert : Jadi kamu mempermainkan saya???(dengan suara tinggi)
  16. Fiorenza : Tidak.. sudah kubilang saya hanya ingin mengujimu… itu saja
  17. Filbert : Kamu hampir membuatku pingsan???
  18. Fiorenza : Kamu lolos ujian
  19. Filbert : Kayak sekolah aja???
  20. Fiorenza : Kamu kapan balik ke Jakarta?
  21. Filbert : Waktu saya cuma seminggu
  22. Fiorenza : Bisa ketemu lagi…
  23. Filbert : Ngak ah, nanti kamu sodorkan Fiorenza yang lain.
  24. Fiorenza : Ngak,, kali ini serius. Lagi pula kamu penasaran kan lihat wajah Fiorenza yang asli ‘kan??
  25. Filbert : Ngak juga
  26. Fiorenza : Marah ya???
  27. Filbert : Yah, kira-kira begitulah.. ternyata saya dikerjain ama cewek
  28. Fiorenza : So jadi ngak ketemu lagi
  29. Filbert : Ngak
  30. (Klik……….)

Babak III

  1. (Sore harinya,,,, di Coffee Shop… Sepasang insan saling bercengkerama menikmati sore sambil mengopi. Uap kopi yang harum dari ceret-ceret menebari ruangan)
  2. (Filbert menatap lekat-lekat Fiorenza asli yang di depannya. Sangat berbeda ya!! Beda sekali!! Dia seperti dewi yang turun dari kayangan)
  3. Fiorenza : Saya Fiorenza.. (memperkenalkan dirinya sambil mengulas senyum ramah)
  4. Filbert : Filbert….(sambil menyelam Fiorenza, wanita yang dikaguminya diam-diam lewat e-mail. Tulisan-tulisannya yang membangkitkan sisi positif darinya, memompa semangatnya)
  5. (Fiorenza juga menikmati utuh wajah Filbert, wajah yang sangat dirindukannya. Tak terlalu ganteng. Tapi memiliki daya tarik tersendiri. Bentuk wajahnya oval, putih bersih, berkacamata minus, barisan gigi yang putih, rambut yang terpotong pendek dan rapi, serta seulas senyum yang amat memikat)
  6. Fiorenza : Maafkan saya soal semalam
  7. Filbert : Sudahlah… saya sudah lupakan kok…
  8. Fiorenza : Benar…….
  9. Filbert : Swear……
  10. Fiorenza : Saya ingin menguji kata-kata kamu yang kamu tulis.
  11. Filbert : Dan aku lolos??
  12. Fiorenza : Ya,,,, (mengangguk) jika kamu mengabaikan wanita paruh baya itu, saya tidak akan meneleponmu…
  13. Filbert : (Menarik napas lega) dan kamu mau menjadi pacarku??
  14. Fiorenza : Eittt…. Saya kira ini terlalu cepat. Kita bersahabat dulu, bagaimana? Lagipula kamu kamu belum mengenal saya dan saya belum mengenal kamu. Selama ini kita hanya berhubungan lewat e-mail. Banyak kekurangan yang belum kamu lihat…..
  15. Filbert : Ngak masalah bagi saya. Saya menerima kamu apa adanya kok… asal kamu mau saja…
  16. Fiorenza : Hmmm… bagaimana ya?? Beri saya waktu???
  17. Filbert : Tapi jangan lama-lama ya???
  18. Fiorenza : Swear (tersenyum dalam hati)
  19. (Sebenarnya saat itu sudah ada jawaban bagi Filbert. Tapi ia merasa gengsi dan menunda member jawaban. Tak apalah ditunda beberapa hari, biar Filbert penasaran) pikirnya,,,,,,,,,

Delapan Puluh Juta

Delapan Puluh Juta

(Oleh Bayu Sagala)

Babak I

  1. (Octo membayangkan semua kenangan yang telah terjadi dalam hidupnya sambil sIBuk mematut diri di cermin di dalam kamar. Hari ini dia akan menikah dengan Lusiana kekasihnya. Dia tersenyum bahagia)
  2. Julyasa : Octo, Bapak Pendeta sudah datang. (teriak kakaknya dari luar kamar)
  3. Octo : Iya… (sahutnya sambil Buru-Buru keluar menuju ruang tamu, menyalam pendeta dan kekasihnya)
  4. (Satu demi satu undangan hadir. Termasuk teman-temannya. Acara pun dimulai. Semua benyanyi dan mendengarkan khotbah. Pendeta, dalam khotbahnya meminta agar dia mensyukuri apa yang dicapainya saat ini. Sebab pencapaian ini adalah anugrah Tuhan.)
  5. Pendeta : Hanya orang terbaik dan dipilih Tuhan yang dapat meraihnya. Dan anak kami, Octo, satu yang dipilih itu. (ucap Pendeta bersemangat)
  6. (Saking bersemangat, Pendeta keasyikan berkhotbah. Seperti dia tak perduli dengan isi khotbahnya. Dia juga tidak peduli dengan ekspresi orang-orang yang mendengarkan)
  7. Anak Kecil : Mak, lapar….. (tangisnya sambil merengek)
  8. (Mendengar itu, spontan Pendeta berucap) Amin…….
  9. (Ibadah diteruskan dan ditutup dengan pelimpahan berkat. Perangkat makan dan menu yang disediakan segera dihidangkan begitu ibadah selesai. Setelah doa makan)
  10. Octo : Silakan makan………(sambil menundukkan badannya)

Babak II

  1. (Hari Pertama Octo mengajar, berjalan sukses. Sukses ini diikuti oleh hari-hari berikutnya. Proses belajar mengajar berlangsung menyenangkan. Semangatnya terus mengobar. Apalagi seorang muridnya adalah Dudhy, adik Bungsu Lusiana. Bagi Octo, kondisi ini dapat menjadi promosi gratis dirinya kepada keluarga Lusiana)
  2. Octo : Tak terasa enam Bulan sudah terlewati (sambil menarik nafas). Kalau begini terus keadaannya, aku akan mematangkan rencanaku untuk melamar Lusiana (sambil berpikir). Dia mengambil ponselnya, lalu mengajak kekasihnya makan malam di restoran mewah di pusat kota.
  3. Octo : Aku berharap kau siap (katanya sambil memegang tangan kekasihnya)
  4. Lusiana : Siap apa???? (tanyanya dengan kebingungan)
  5. Octo : Aku ingin melamarmu dalam waktu dekat
  6. (Lusiana diam. Dia menahan senyum. Wajahnya tak dapat menyemBunyikan kebahagiaan.
  7. (Kring…….Kring………… Nada pesan pendek nyaring di ponsel Octo. Octo langsung memBuka pesan terseBut. “Bagaimana pekerjaanmu? Pasti nikmat, ya. Beruntung kau memiliki orang tua yang bisa menyediakan apapun” sesaat kening Octo berkerut. Perasaan dan pikirannya tiba-tiba dipenuhi kaBut hitam)
  8. Lusiana : Kenapa??? (tanyanya dengan heran)
  9. Octo : Ah…. Tak apa-apa…. (jawabnya dengan gugup) Lusi, ayo kita pulang…….. (sambil menarik tangan kekasihnya)
  10. Lusiana : Tapi makanannya belum habis…..
  11. Octo : Udah tinggalkan saja……..

Babak III

  1. (Isi pesan teks itu benar-benar mengusik ketenangannya. Nomor yang digunakan mengirimkan pesan tidak lagi aktif. Semangatnya lekang satu-satu. Wajahnya yang cerah tiba-tiba redup. Murid-muridnya juga tidak menikmati mata pelajaran yang diajarkannya)
  2. Dudhy : Bang Octo (menegur Octo yang duduk sendirian)
  3. Octo : Ini masih jam belajar
  4. Dudhy : Tapi ini hanya kita berdua saja (belanya)….. Abang tahu kenapa kami tidak bersemangat lagi pelajaran olahraga??? (mengajukan pertanyaan terus terang)
  5. (Octo tidak menjawab. Dia malas menanggapi pertanyaan itu. Dia tidak lagi memperdulikan sikap murid-muridnya. Pikirannya bebar-benar diperuntukkan bagi pesan pendek misterius)
  6. Dudhy : Karena kami kecewa… (serBunya) Bagaimana mungkin seseorang yang mengajarkan fair play justru bermain dengan cara yang tak patut????
  7. Octo : Maksudmu (terkejut)
  8. Dudhy : Hahahahahahahahaha (tertawa) Maksudku bang. Delapan puluh juta itu Bukan jumlah yang kecil. Seandainya aku diberi duit sejumlah itu, lebih baik kugunakan sebagai modal usaha. Apa abang tidak tahu kalau saat ini adalah zamannya ekonomi kreatif????
  9. (Tawanya semakin kuat sambil meninggalkan Octo yang mematung penuh tanya)

Babak IV

  1. (Pesan singkat misterius ditambah ucapan Dudhy semakin memBuat Octo lelah menjalani hari dan pekerjaannya. Dia merasa renta dan terasing. Murid-murid tidak lagi menginginkannya dan Lusiana kerap menghindar saat dihuBungi)
  2. Octo : Kayaknya aku perlu lIBuran (pikirnya)
  3. (Ia minta cuti dari sekolah dan memilih berkeliling kota bersama sepeda motornya. Beberapa kali ia hamper terserempet karena tidak berkonsentrasi. Terhindar dari bahaya, tapi tak lepas dari tiupan pluit polisi lalu lintas. Octo terlambat memacu sepeda motornya saat mengejar lampu kuning yang tinggal 2 detik. Baru saja ia melewati zebracross, lampu sudah berganti merah)
  4. Polisi : Selamat siang, pak (dengan hormat)
  5. Octo : Selamat si… (ia memBuka helm dan menatap lekat polisi. Dia mengingat-ingat wajah di depannya, lalu melirik kea rah dada polisi itu)…. Benar, Kau Sukma. Aku Octo…. (ucapnya setengah berteriak)
  6. Sukma : Octo???? (menatap Octo dan melepas ingatannya ke waktu di belakang) hehehehehehhee …. Octo,,, apa kabar???
  7. (Keduanya bersalaman)
  8. Sukma : Kerja dimana sekarang??
  9. Octo : Aku guru (dengan ekspresi terkejut)
  10. (Kring…Kring………Kring. Dia memBuka isi pesan teks terseBut. Si pengirim misterius kembali mengirimkan pesan pendek…. “Berani taruhan. Kau akan tetap kena tilang. Sukma Hoegeng, teman lama kita itu, tak pernah bisa disuap”)
  11. Sukma : Jadi kau guru???
  12. Octo : (Mengangguk kaku…..)
  13. Sukma : Tapi Octo, aku harus mengenakan sanksi tilang kepadamu….
  14. Octo : (Tak menjawab…. Dia passrah. Meski yang mengenakan sanksi adalah seorang teman SMP yang lama tak bertemu)
  15. Sukma : Seragammu. Kau PNS??? (tanyanya)
  16. Octo : ya… iya… (jawabnya gugup)
  17. (Setelah itu dia tidak lagi berkata apa-apa. Termasuk saat meninggalkan Sukma. Octo mengangguk kepalanya sebelum melaju dengan sepeda morotnya)
  18. (Bunyi nada pesan pendek kembali terdengar. Octo membiarkan. Dia takut memBukanya. Dia semakin gelisah. Resah. Kepalanya dirasa pecah. Bagaimana mengembalikan delapan puluh juta jika terus diteror pesan pendek tak bernama???)
  19. (SeBuah klakson dibelakangnya….. Octo menuju gila)

Sabtu, 27 Februari 2010

Reinhard Bonnke

Reinhard Bonnke

Reinhard Bonnke lahir pada 1940 di Jerman Timur. Ia anak kelima dari enam bersaudara. Saat itu, Perang Dunia II tengah berkecamuk. Bersama sang ibu, mereka lari sebagai pengungsi. Mereka melintasi Laut Baltik dengan menggunakan kapal dan mendarat di Denmark. Di tempat pengungsian, mereka berada di tempat yang dikelilingi kawat berduri dan supaya dapat bertahan hidup, mereka terpaksa mengais-ngais makanan. Sebuah masa kecil yang getir. “Jadi, itulah yang melatari mengapa saya sangat berbelaskasihan pada kaum gelandangan dan kaum miskin.”kenangnya dalam sebuah wawancara.

Pada usia sembilan tahun, ia dan saudara-saudara kembali ke Jerman. Ayahnya saat itu menjadi pendeta dan telah merintis gereja di Harmburg, Jerman Barat. Disitulah ia dibesarkan.

Pencuri Kecil yang Bertobat

Selama berada di pengungsian, ia sama sekali tidak mengenal uang, karena disana sama sekali tidak ada uang. Pemerintah Denmark member mereka makanan dan pakaian. Sebagai tempat tinggal bagi para pengungsi, empat keluarga mesti berbagi satu ruangan.

Ketika kembali ke Jerman, barulah ia mengenal uang. Ia sadar, dengan uang ia bisa membeli permen. Ia pun mencuri beberapa keeping uang dari dompet ibunya dan pergi membeli permen. Ibunya memergokinya. Namun, bukannya member hukuman, ibunya malah merangkulnya dan berkata, “Reninhard, kau sedang menuju neraka karena kau ini pencuri.”

Pada saat itu, ia merasa Roh Kudus menjamah hatinya. Ia melihat dirinya sebagai orang berdosa; dan ibunya menjelaskan bahwa Yesus peduli dan dapat menyelamatkan orang berdosa. Ia mengalami kelahiran kembali. Sejak saat itu, ia tidak pernah mencuri uang lagi.

Setahun kemudian, pada usia sepuluh tahun, ia mendapatkan panggilan Tuhan. Saat itu sedang ada pembicara tamu yang berkhotbah di gereja ayahnya. Tiba-tiba ia mendenga suara Roh Kudus di dalam hatinya, begitu jelas, mengatakan,“Reinhard, suatu hari kau akan memberitakan Injil di Afrika.”

Ia mulai menangis dan berlari ke depan, memeluk ayahnya. “Papa, Papa, Papa, Tuhan berbicara kepadaku.” Katanya. “Apa yang dikatakan-Nya?” tanya ayahnya.

“Tuhan berkata, suatu hari aku akan memberitakan Injil di Afrika.”jelasnya.

Ayahnya menjawab, “Reinhard, kakakmu yang akan meneruskan pelayananku disini.”

Pengalaman pertobatan dan panggilan Ilahi itu tak ayal mempengaruhi pergaulannya. Ia sadar dirinya tidak bisa bersikap sembrono pada para gadis seperti anak laki-laki sebayanya, karena suatu hari ia akan berkhotbah kepada mereka. Karenanya, ketika menikah pada usia 22 tahun, istrinya menjadi perempuan pertama yang diciumnya.

Mukjizat Pertama

Setelah kuliah di Bible College, Wales, ia menjadi pendeta di Jerman selama tujuh tahun. Pada tahun 1969 ia dan istrinya, Anni, beserta anak laki-laki mereka yang masih bayi, berangkat ke Maseru, Lesotho.

Pada tahun awal di Maseru, Reinhard dan Annie melakukan karya misi secara tradisional. Ketika itulah ia mendapatkan penglihatan tentang “benua Afrika yang dibasuh oleh darah Yesus yang mahal harganya”. Visi itu menanamkan kerinduan di dalam hatinya untuk menjangkau benua Afrika, dari Cape Town sampai ke Kairo dan dari Dakar sampai ke Djibouti. Pada awalnya ia melihat bukti bahwa gagasan sebesar itu mungkin diwujudkan, teai ia terus berpegang teguh pada impian Ilahi itu dan bertekun dalam pelayannya.

Reinhard bukanlah orang yang yakin akan mujizat. Ia tahu Yesus dulu menyembuhkan orang sakit, tetapi ia tdak yakin Yesus masih menyembuhkan orang hingga saat ini. Ia memilih untuk menahan diri. Pada suatu hari, ia mengundang Hamba Tuhan dari Zulu bernama Richard Ngidi. Pelayanan Richard disertai dengan tanda-tanda dan mukjizat. Setelah menyaksikannya dengan mata sendiri, Reinhard mulai menyadari bahwa Firman Allah tentang mukjizat masih berlaku.

Kira-kira setahun kemudian, ia mengundang hamba Tuhan lain, yang juga bergerak dalam bidang pelayanan tanda-tanda dan mukjizat. Orang ini berjanji akan melayani pada kebaktian Sabtu dan Minggu. Pada kebaktian Sabtu, gereja di dapati orang sakit. Namun, setelah berkhotbah selama sepuluh menit, orang itu meminta Reinhard menutup kebaktian, dan berjanji akan berdoa untuk orang-orang sakit keesokan harinya.

Esoknya, ketika Reinhard menjemput sang Hamba Tuhan di hotel, orang itu mengatakan, Roh Kudus menyuruhnya pulang. Dan orang itu juga pergi begitu saja. Reinhard marah dan merasa dipermainkan. Sambil menyetir mobil kembali ke gerejanya, ia berdoa, “Aku ini memang hanya seorang misionaris. Tetapi aku ini juga anak-Mu. Aku akan ke gereja, berkhotbah, berdoa untuk orang sakit, dan Engkau yang melakukan mukjizat.” Ia merasakan damai sejahtea menyelimuti hatinya.

Dan, benar saja, pagi itu Tuhan memakainya secara luar biasa. Orang buta dan orang lumpuh disembuhkan. Hadirin mengalami jamahan Tuhan. Sejak saat itu kuasa Tuhan nyata dalam pelayanannya.

Pelayanan Tenda

Pada tahun 1974 ia mendirikan lembaga penginjilan “Christ for all Nations”(CfaN). Ia memulai di tenda yang dapat menampung 800 orang. Namun, seiring dengan semakin meningkatnya pengunjung, mereka harus memmbeli tenda yang lebih besar lagi. Begitulah, sampai pada tahun 1984, mereka membangun tenda terbesar di dunia, sebuah tenda yang dapat dipindah-pindahkan dengan kapasitas 34.000 tempat duduk!

Tidak lama kemudian, tenda besar itu sudah tidak mampu menampung banyaknya pengunjung. Ia mulai mengadakan kebaktian di lapangan terbuka, dengan pengunjung pada awalnya tidak kurang 150.000 orang. Sejak saat itu ia berkeliling ke berbagai kota di seluruh Afrika, berkhotbah di lanpangan terbuka. Bahkan, di Lagos dan Nigeria, pengunjungnya mencapai 1,6 juta dengan tata surya yang terdengar sampai bermil-mil jauhnya.

Pelayanannya pun mulai meluas sampai ke Asia. Ia telah mengadakan KKR di Malaysia, Filipina, Indonesia, Singapura, dan India serta Negara di Amerika Selatan. Sampai pada tahun 2007, tercatat tak kurang 42 juta jiwa mengambil keputusan bagi Yesus melalui KKR CfaN. Pada dekade pertama millennium baru ini, mereka mencanangkan visi untuk melihat angka itu mencapai 100 juta. Sebagai bagian dari program pelatihan pemuridan mereka, lebih dari 178 juta eksemplar buku dan buklet CfaN telah diterbitkan dalam 140 bahasa dan dicetak di 53 negara.

CfaN juga secara aktif mendukung “Global Pastor’s Network”, sebuah gerakan interdenominasi sedunia yang bervisi menjangkau satu miliar jiwa dan merintis lima juta gereja di seluruh dunia sebelum 2010.

Salah satu mukjizat menonjol dalam Kebaktian Reinhard Bonnke berlangsung pada Desember 2001 di Grace Of God Mission Church di Onitsha, Nigeria. Pendeta Daniel Ekechukwu, yang telah dinyatakan meninggal selama empat puluh dua jam, secara ajaib bangkit dan hidup kembali. Sebagian kalangan meragukan kebenaran mukjizat tersebut.

“Mereka pun (para pengkritik ini) mengatakan bahwa mereka telah meneliti mukjizat ini. Mereka mendapati bahwa mukjizat itu memang factual. Namun, mereka mengatakan, terserah Apakah anda mempercayainya atau tdak. Namun, Anda tahu, fakta itu keras kepala. Kalau pun orang mengatakan mukjizat itu tiak benar, orang itu masih tetap hidup. Masih ada ribuan saksi, masih ada dokter yang mengeluarkan suarat kematian, masih ada pengurus pemakaman, yang karena mukjizat ini, keluarga mereka diselamatkan dan mereka saat ini menjadi orang Kristiani yang luar biasa. Saya percaya kita akan melihat mukjizat-mukjizat yang lebih besar lagi,” papar Reinhard menanggapi keraguan tadi.

Pelayanan : Dia mengabdikan dirinya menjadi missionaris bagi benua Afrika. Dia mengabarkan Injil dengan gigih dan pantang menyerah walaupun banyak yang dihadapinya selama pelayanannya. Dia sudah berkhotbah di semua Negara di Afrika, sebuah pencapaian yang luar biasa, untuk mendukung pelayanannya, dia mendirikan lembaga penginjilan yang mana lembaga yang didirikannya sudah banyak menginjili di berbagai Negara di dunia, termasuk Indonesia.

Citra Kristen yang dimilikinya : Reinhard Bonnke memiliki penguasaan diri yang kuat selama hidupnya, dia selalu berusaha untuk menyenangkan orang disekitarnya terutama Tuhan, dia menjadikan Yesus sebagai teladan hidupnya, dia memiliki visi misi yang jelas mengenai tujuan hidupnya untuk memuliakan Tuhan, dan yang paling penting Rinhard Bonnke termasuk salah satu Hamba Tuhan yang setia, dan pantang menyerah dalam pelayanannya.

Kamis, 25 Februari 2010

Blaise Pascal

Blaise Pascal

Hidupnya singkat saja: tiga puluh Sembilan tahun. Namun, masa hidup itu dipenuhinya dengan berbagai pencapaian mencengangkan. Orang mengenangnya sebagai seorang yang genius dalam bidang matematika, fisika, dan sastra. Ia dinobatkan sebagai Bapak Kalkulus Integral. Namanya pun melekat pada salah satu bahasa pemograman komputer (Program Turbo Pascal).

Itu baru berbicara soal pencapaian olah pikirnya. Melalui karyanya, Pensees, kumpulan catatan berkenaan dengan apologetika Kristiani, kita dapat menilik kerinduan hatinya dan perkara yang bermakna baginya: Pengenalan akan Allah.

Blaise Pascal Lahir pada 19 Juni 1623 di Clermont, Prancis. Ibunya, Antoinette Begon, meninggal saat ia berusia tiga tahun. Ayahnya, Etienne Pascal, seorang hakim yang berminat pada sains dan matematika. Ia mempunyai dua saudari, Gilberte dan Jacqueline (satu lagi meninggal saat masih kecil).

Pada 1931, Etienne memutuskan untuk membawa anak-anaknya pindah ke Paris karena tertarik pada dinamika intelektual kota itu. Ia bertekad akan mendidik sendiri puteranya, yang sejak dini telah memperlihatkan kecemerlangan kemampuan mental dan intelektual. Etienne bergaul dengan ilmuwan Paris tersohor saat itu, seperti Robervel, Mersenne, Desargues, Mydorge, Gassendi, dan Descartes.

Tak ayal lingkungan ini turut mendukung kemajuan Pascal. Pada usia tiga belas tahun, ia telah menguasai dasar-dasar geometri Euclidian secara autobidak. Pada usia enam belas tahun, ia menerbitkan esai tentang kerucut yang mendapat pujian dari para ilmuwan. Antara tahun 1642 sampai 1644, ia mengembangkan mesin hitung untuk dipakai ayahnya dalam penghitungan pajak. Mesin itu tidak lain adalah cikal bakal Komputer.

Ia dibesarkan dalam iman Katholik, namun setelah ayahnya meninggal dan adiknya menjadi biarawati, Pascal malah memasuki masa yang sangat duniawi dalam hidupnya. Bukannya ia melepaskan imannya, tetapi persekutuannya dengan Tuhan tampaknya menguap di tengah hasratnya yang membara dalam pengejaran intelektualnya.

Pertobatan Dahsyat

Pencapaian ajaibnya dan penerimaan kalangan elite Prancis, termasuk pengakuan dari Raja Louis XIV, mestinya membuat hidupnya menyenangkan. Sebaliknya, ia justru melihat dirinya seperti cacing dan monster--- sebuah kekacauan yang penuh kontradiktif.

Kondisi tubuhnya juga kurang mendukung. Ketika kesehatannya memburuk, dokter menyarankannya untuk bersenang-senang, mengesampingkan kesuntukkannya atas berbagai penelitian. Namun, Pascal tidak menceburkan diri ke dalam amoralita serba bobrok. Kesenangan baginya menonton sandiwara, berpesta, berdebat, dan berjudi (dari kesengan terakhir ini, ia mereka-reka dalil probabilitas).

“Aku, merasa muak dengan dunia ini,” katanya kepada Jacqueline, adiknya, yang menjadi biarawati. Pascal menyelidiki tulisan para filsuf besar untuk mendapatkan penghiburan, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Ia berpaling kepada Alkitab, tetapi Firman Tuhan hanya membuatnya kian meratapi kemalangan dan ketandusan rohaninya.

Namun, segalanya berubah pada malam 23 November 1654. Rumah Pascal di Rue des Francs-Bourgeois di Saint-Michel menyambut tamu istimewa : Tuhan. Ia mengalami lawatan adikodrati dahsyat yang menguncangkan seluruh keberadaannya. Pengalaman yang disebutnya “Pertobatan Kedua” ini benar-benar mengubah jalan hidupnya.

“API” tulisnya pada kertas di depannya. “Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, bukan Allah para filsuf dan cendikiawan. “Hatinya menggengam apa yang selama ini tak terjangkau oleh daya pikirnya. Jiwanya dipenuhi kepastian, sukacita, dan damai sejahtera. Aib akibat merasa terpisah dari Allah digantikan oleh keyakinan penuh akan kasih karunia.

Prosa Cemerlang

Ia kemudian bergabung dengan komunitas cendekiawan di Port-Royal, Prancis, yang dikenal sebagai kaum Jansenis, golongan injili di tengah Gereja Katholik. Ia mengikuti pertemuan doa dan mendukung pelayanan kelompok ini tanpa menjadi anggota penuh. Disitu ia membantu mereka dalam kontraversi sengit dengan kaum Jesuit. Telaahnya akan tabiat manusia membawanya pada deduksi logis bahwa anugrah sajalah yang dapat membuahkan keselamatan, seperti yang diajarkan oleh kaum Jansenis. Ia menyampaikan argumentasinya dengan penalaran dan kecergasan. Pembelaannya terhadap serangan kaum Jesuit memukau para pembaca, baik karena gaya bahasa maupun karena efektivitasnya. Tulisan-tulisan apologetikanya ini dianggap sebagai “suatu monumen di dalam evolusi prosa Prancis” oleh para sejahrawan dan ahli bahasa.

Antara tahun 1657 dan 1658, Pascal menulis catatan-catatan apologetika yang akan disusun menjadi buku. Catatan yang berjudul Pensees (Gagasan=bahasa Prancis) ini baru diterbitkan setelah ia meninggal. Pascal memaksudkannya sebagai kajian dan pembelaan yang konheren terhadap iman Kristen. Ia menelaah beberapa paradoks filosofis: ketidakberhinggaan dan ketiadaan, iman dan penalaran, jiwa dan materi, kehidupan dan kematian, makna dan kesia-siaan; ia tidak menyajikan kesimpulan yang definitive kecuali kerendahan hati, ketidaktahuan, dan kasih karunia.

Pensees juga dianggap sebagai adikarya dan tonggak istimewa dalam kesusastraan Prancis. Will Durant dalam Story of Civilazation, mislanya, menyanjungnya sebagai “buku yang paling mengesankan dalam khazanah prosa Prancis”. Sayangnya, Pascal tidak sempat menuntaskan karya itu. Pada 19 Agustus 1662, dalam usia 39 tahun, ia meninggal dunia karena kesehatannya yang terus memburuk. Perkataan terakhirnya adalah “Kiranya Allah tak pernah meninggalkan aku!”

Luhur dan Bobrok

Kekuatan apologetika dilandasi oleh motivasi untuk meyakinkan orang supaya percaya kepada Yesus. Apabila apologetikanya hendak diarahkan sebagai penginjilan, hal yang harus diperhitungkan adalah kondisi manusia penyimaknya. Bagi Pascal, kondisi manusia ini merupakan titik tolak dan titik sentuh bagi apologetika.

Dalam analisisnya, Pascal berfokus pada dua sisi tabiat manusia berdosa yang sangat bertentangan manusia itu luhur dan sekaligus bobrok. Luhur, karena ia diciptakan di dalam rupa Allah; bobrok, karena ia jatuh ke dalam dosa dan terpisah dari Allah. Istimewanya, kita mengetahui bahwa diri kita itu bobrok. Dan pengetahuan ini justru sekaligus memperlihatkan keagungan kita.

Menurut Pascal, adalah penting bagi kita untuk memiliki pengertian yang benar akan diri sendiri. Katanya, “Sama-sama berbahaya bagi manusia kalau ia mengenal Allah tanpa menyadari kebobrokannya tanpa mengenal Sang Penebus yang dapat membebaskannya dari kebobrokan itu”.

Jauh di lubuk hatinya, manusia tahu tentang adanya dosa yang membelenggunya, tetapi mereka cenderung enggan memikirkannya. Kita lebih senang menepisnya: entah melalui pengalihan dengan melakukan ketidakpedulian dengan hidup tanpa memperhitungkan aspek kekekalan.

Dalam memberitakan Injil, kita perlu menegaskan bahwa “ada Allah yang dapat dikenal oleh manusia, dan ada kebobrokan di dalam tabiat manusia yang membuatnya tidak layak untuk mengenal Dia.” Hal itu akan mempersiapkan orang-orang yang belum percaya untuk mendengar tentang Penebus yang mendamaikan orang berdosa dengan Sang Pencipta.

Pelayanan : Hidupnya kebanyakan terjun di bidang sains dan matematika. Tetapi setelah ia bertobat, ia menggunakan segala pengetahuannya kepada Tuhan. Dia banyak menulis apologetika/ tulisan-tulisan tentang Yesus Kristus untuk membantu pelayanan kaumnya dalam memberitakan Injil, dia melakukan perombakan akan pemikiran kalangan Jesuit mengenai kekristenan. Dan sampai akhir hidupnya, dia tetap meneliti, menulis, dan mengabarkan Injil keselamatan.

Citra Kristen yang dimilikinya : Blaise Pascal setelah ia bertobat, ia meneliti kehidupan Yesus Kristus dan menjadikannya sebagai jurus’lamat pribadinya, Blaise Pascal juga berani mengatakan, “Bahwa Allah itu bukanlah Allah untuk bangsa cendekiawan yang hanya berfokus kepada ilmu pengetahuan dan hal-hal yang dianggap logis, tetapi Allah adalah Allah yang Luar Biasa dan Allah bagi semua orang”.

Mengenai Saya